Berhati-hatilah jika Anda sedang berlibur ke Evora, Portugal. Di sini ada sebuah bangunan yang dinamakan sebagai Capela dos Ossos yang berarti Kapel Tengkorak. Kapel ini digunakan sebagai tempat ibadah dan sudah berdiri sejak abad ke-16. Mengapa kapel ini disebut sebagai kapel tengkorak?
Syahdan, pada abad XVI, terdapat 43 buah permakaman di wilayah Evora. Namun, sebuah keputusan yang diambil pemerintah saat itu mengharuskan warganya untuk menghancurkan sebagian besar permakaman tersebut. Sebanyak 5000 tengkorak dipindahkan oleh para biarawan untuk dipindahkan ke Capel dos Ossos. Tengkorak-tengkorak ini menjadi bagian dekorasi kapel. Namun, itu belum seberapa. Sebuah gereja di Ceska yang bernama Sedlec Ossuary, memuat 40-70 ribu tengkorak sebagai penghias dinding-dindingnya. Sungguh menyeramkan!!!
Apakah kelak tulang belulang Anda akan mendapat perlakukan yang serupa? Jawabannya bisa ya atau tidak. Namun, melihat lahan permakaman saat ini bisa jadi tulang belulang diri kita bisa bernasib sama. Kalaupun tidak menjadi hiasan dinding, tulang belulang itu mungkin akan ditindih oleh bangunan-bangunan seperti gedung bertingkat, apartemen, atau bahkan sebuah mall.
Hal ini dikarenakan lahan pemakaman di wilayah kita, terutama di kota-kota besar banyak yang hilang dan tergerus oleh derap pembangunan. Lahan pemakaman yang dulunya tegak berdiri kini berganti menjadi aneka rupa bangunan. Mayat serta tulang belulangnya? Hilang entah kemana. Lantas kepada siapakah kita kelak akan mengadu ketika sudah berkalang tanah?
Umat Muslim di Indonesia tentang hal ini seharusnya melihat pada permakaman Muslim Wadi As Salaam, yang terletak di wilayah Najaf, Irak. Wadi As Salam, yang berarti Lembah Kesejahteraan, merupakan kompleks pemakaman Muslim yang amat besar dan telah menampung jutaan Muslim untuk dikuburkan di dalamnya. Makam Khulafaur Rasyidin Ali bin Abi Thalib pun berada di sini.
Wadi As Salaam dianggap sebagai tanah pemakaman Muslim paling besar di dunia. Luas tanah yang dimiliki hampir 1.485 hektar persegi. Banyak orang yang menyengaja datang dari jauh hanya untuk dimakamkan di tempat ini. Selain mampu menampung jutaan Muslim, di sini ada pula pekerja-pekerja yang khusus menghabiskan hari-harinya hanya untuk memakamkan jenazah dan merawat tanah perkuburan.
Inilah yang harus menjadi pemikiran kita bersama, khususnya umat Islam di Indonesia. Selama ini tanah-tanah yang dimiliki oleh para warga telah disulap menjadi aneka gedung dan pusat perbelanjaan yang tentu saja manfaatnya hanya dirasakan oleh segelintir orang saja. Belum banyak orang yang berinisiatif mewakafkan tanahnya untuk hal-hal yang lebih produktif semacam permakaman Muslim atau rumah sakit Muslim yang justru mafaatnya akan banyak dirasakan oleh umat.
Selama ini kita tak acuh dengan mementingkan dan menumpuk harta kita demi kepentingan dunia yang fana. Bekal kita diakhirat hanya dikumpulkan seadanya saja. Padahal, kehidupan nanti memerlukan perjalanan panjang. Tentu saja bekal yang dibawa pun tidak boleh sedikit.
Wakaf permakaman Muslim mutlak harus dipikirkan agar keberadaannya bisa segera hadir di tengah masyarakat. Jangan sampai ketika meninggal kelak, mayat kita kebingungan mencari tempat permakaman yang layak. Atau, kita lebih memilih tulang belulang kita menjadi asesoris gedung serta pusat perbelanjaan?Naudzubillah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar