Senin, 13 Maret 2017

Kepada Masyarakat Diharapkan Untuk Turut Menjaga dan Merasa Memiliki Firdaus Memorial Park, Digelar lah Silaturahim Dengan Masyarakat


Sinergi Foundation kembali menggelar silaturahim bersama masyarakat dan tokoh sekitaran kawasan Taman Pemakaman Firdaus Memorial Park (FMP), Selasa (08/03/2016). Selain sosialisasi perkembangan FMP, pertemuan ini juga dimanfaatkan untuk menegaskan keberadaan FMP sebagai aset umat Islam yang harus dijaga bersama-sama.
“FMP ini merupakan program sosial, namun pengelolaannya profesional. Karenanya kita mengusung konsep wakaf produktif. Sehingga kita tidak melulu mengurusi pemakaman, tapi ada nilai produktivitas untuk operasionalnya,” ungkap Ima Rachmalia selaku CEO-SF.
Ima menegaskan, keberadaan FMP tidak akan melupakan keberadaan masyarakat sekitar. Ada program-program produktif yang bakal melibatkan warga sekitar. Karenanya, Ima berharap, masyarakat juga turut menjaga keasrian dan keamanan FMP.
“Ada isu ketika FMP dipagar, kalau masuk nanti harus bayar. Enggak, bukan begitu. Kita buat pagar itu untuk meminimalisir lokasi ini dijadikan tempat pacaran,” tandas Ima.
Karena taman ini digagas dengan niat lillahi ta’ala, juga kita mengusung kata syar’i sebagai tagline FMP, maka dari itu kita berkomitmen, bukan saja syar’i dalam tinjauan fiqh pengurusan jenazah, tapi juga syar’i dari sisi sosialnya, bukan tempat berpacaran,” lanjutnya.
Ima menyinggung, keberadaan FMP sudah mulai dilirik banyak pihak. Seperti Dinas Pariwisata yang berencana membuat buku wisata di kawasan Bandung Barat. Kawasan FMP ini, imbuh Ima, akan dimasukan sebagai destinasi wisata.
Sementara itu, Kepala Desa Mandalamukti, Ahmad Fauzi mengapresiasi keberadaan dan rencana program-program FMP. Dengan adanya program ini ia melihat keterbukaan Sinergi Foundation untuk turut melibatkan warga sekitar.   
“Saya juga mendengar pihak Sinergi akan membuat masjid. Saya berharap warga kami juga turut dilibatkan dalam pembangunan masjid itu. Dengan demikian, diharapkan masyarakat juga merasa memiliki taman pemakaman ini,” tandas Fauzi. []

Firdaus Memorial Park Kembali Menerima Jenazah Dhuafa

Innalillahi wa innailahi raaji’un. Lagi, Firdaus Memorial Park kembali mengebumikan seorang fakir dhuafa. Wanita yang tak diketahui identitasnya ini ditengarai mengalami serangan jantung mendadak. Sempat dilarikan ke RSUD Cililin, Bandung Barat, namun nyawanya tak dapat ditolong. Ia tutup usia pada Sabtu (26/11/2016).
Sebelumnya, diketahui wanita yang wafat di usia 40 tahun itu mengidap gangguan jiwa, dan menggelandang di sekitar wilayah Bandung Barat. Almarhum tak memiliki alamat pasti, dan tak pula mempunyai sanak saudara yang menemani. Ia menghembuskan nafas terakhirnya dalam kondisi sebatang kara.
RSUD Cililin setempat pun sempat kebingungan, karena tak ada kerabat yang bisa dihubungi. Pun, tak ada pemakaman umum yang menerima jenazah tanpa identitas. Akhirnya, jenazah tersebut diserahkan pada Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung
Qadarullah, Dinkes mengajukan diri, dan mengubungi pengelola Taman Wakaf Pemakaman Muslim Firdaus Memorial Park (FMP), Sinergi Foundation, agar jenazah bisa dimakamkan di sana. Pemakaman yang berlokasi di Desa Ciptagumati, Kecamatan Cikalong Wetan ini adalah aset umat, yang berasal dari wakaf segenap kaum peduli.
Almarhum merupakan satu di antara jenazah dhuafa lain yang telah dimakamkan di Firdaus Memorial Park. Sebelumnya, ada sembilan jenazah dari kalangan papa yang dikebumikan di sana.
Ketika orang miskin ‘dilarang’ mati, lantaran tingginya biaya untuk penyediaan lahan pemakaman, Firdaus Memorial Park hadir sebagai solusi. Mulai dari prosesi memandikan, mengafani, menyalatkan, hingga memakamkan, plus penyediaan lahan pemakaman itu sendiri, murni cuma-cuma tanpa ada pungutan dalam bentuk apapun.

Minggu, 12 Maret 2017

Kapel Tengkorak dan Urgensi Pemakaman Muslim


Berhati-hatilah jika Anda sedang berlibur ke Evora, Portugal. Di sini ada sebuah bangunan yang dinamakan sebagai Capela dos Ossos yang berarti Kapel Tengkorak. Kapel ini digunakan sebagai tempat ibadah dan sudah berdiri sejak abad ke-16. Mengapa kapel ini disebut sebagai kapel tengkorak?
Syahdan, pada abad XVI, terdapat 43 buah permakaman di wilayah Evora. Namun, sebuah keputusan yang diambil pemerintah saat itu mengharuskan warganya untuk menghancurkan sebagian besar permakaman tersebut. Sebanyak 5000 tengkorak dipindahkan oleh para biarawan untuk dipindahkan ke Capel dos Ossos. Tengkorak-tengkorak ini menjadi bagian dekorasi kapel. Namun, itu belum seberapa. Sebuah gereja di Ceska yang bernama Sedlec Ossuary, memuat 40-70 ribu tengkorak sebagai penghias dinding-dindingnya. Sungguh menyeramkan!!!
Apakah kelak tulang belulang Anda akan mendapat perlakukan yang serupa? Jawabannya bisa ya atau tidak. Namun, melihat lahan permakaman saat ini bisa jadi tulang belulang diri kita bisa bernasib sama. Kalaupun tidak menjadi hiasan dinding, tulang belulang itu mungkin akan ditindih oleh bangunan-bangunan seperti  gedung bertingkat, apartemen, atau bahkan sebuah mall.
Hal ini dikarenakan lahan pemakaman di wilayah kita, terutama di kota-kota besar banyak yang hilang dan tergerus oleh derap pembangunan. Lahan pemakaman yang dulunya tegak berdiri kini berganti menjadi aneka rupa bangunan. Mayat serta tulang belulangnya? Hilang entah kemana. Lantas kepada siapakah kita kelak akan mengadu ketika sudah berkalang tanah?
Umat Muslim di Indonesia tentang hal ini seharusnya melihat pada permakaman Muslim Wadi As Salaam, yang terletak di wilayah Najaf, Irak. Wadi As Salam, yang berarti Lembah Kesejahteraan, merupakan kompleks pemakaman Muslim yang amat besar dan telah menampung jutaan Muslim untuk dikuburkan di dalamnya. Makam Khulafaur Rasyidin Ali bin Abi Thalib pun berada di sini.
Wadi As Salaam dianggap sebagai tanah pemakaman Muslim paling besar di dunia. Luas tanah yang dimiliki hampir 1.485 hektar persegi. Banyak orang yang menyengaja datang dari jauh hanya untuk dimakamkan di tempat ini. Selain mampu menampung jutaan Muslim, di sini ada pula pekerja-pekerja yang khusus menghabiskan hari-harinya hanya untuk memakamkan jenazah dan merawat tanah perkuburan.
Inilah yang harus menjadi pemikiran kita bersama, khususnya umat Islam di Indonesia. Selama ini tanah-tanah yang dimiliki oleh para warga telah disulap menjadi aneka gedung dan pusat perbelanjaan yang tentu saja manfaatnya hanya dirasakan oleh segelintir orang saja. Belum banyak orang yang berinisiatif mewakafkan tanahnya untuk hal-hal yang lebih produktif semacam permakaman Muslim  atau rumah sakit Muslim yang justru mafaatnya akan banyak dirasakan oleh umat.
Selama ini kita tak acuh dengan mementingkan dan menumpuk harta kita demi kepentingan dunia yang fana. Bekal kita diakhirat hanya dikumpulkan seadanya saja. Padahal, kehidupan nanti memerlukan perjalanan panjang. Tentu saja bekal yang dibawa pun tidak boleh sedikit.
Wakaf permakaman Muslim mutlak harus dipikirkan agar keberadaannya bisa segera hadir di tengah masyarakat. Jangan sampai ketika meninggal kelak, mayat kita kebingungan mencari tempat permakaman yang layak. Atau, kita lebih memilih tulang belulang kita menjadi asesoris gedung serta pusat perbelanjaan?Naudzubillah